Home » All posts
Rabu, 05 Desember 2012
7. Qona’ah
ومن ذا الذي ذو قلب قنوع # ما انت ومالك الدنيا سواء (شا فعي)
Barang siapa memiliki hati yang konaah maka engkau dan pemilik dunia adalah sama
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " القناعة كنزُ لا يفنى " .
Qana’ah adalah sebuah gudang penyimpanan yang tak akan pernah sirna
MOTIVASI
Pengantin Sederhana
Ketika Nabi Muhammad menikahkan Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, beliau mengundang Abu Bakar, Umar, dan Usamah untuk membawakan persiapan Fatimah. Mereka bertanya tanya, apa gerangan yang dipersiapkan Rasulullah untuk putri kinasih dan keponakan tersayangnya itu? Ternyata bekalnya cuma penggilingan gandum, kulit binatang yang disamak, kendi, dan sebuah piring. Mengetahui hal itu, Abu Bakar menangis. Ya Rasulullah. Inikah persiapan untuk Fatimahtanya Abu Bakar terguguk. Nabi Muhammad pun menenangkannya, “Wahai Abu Bakar. Ini sudah cukup bagi orang yang berada di dunia” Fatimah, sang pengantin itu, kemudian keluar rumah dengan memakai pakaian yang cukup bagus, tapi ada 12 tambalannya. Tak ada perhiasan, apalagi pernik pernik mahal. Setelah menikah, Fatimah senantiasa menggiling gandum dengan tangannya, membaca Alquran dengan lidahnya, menafsirkan kitab suci dengan hatinya, dan menangis dengan matanya. Itulah sebagian kemuliaaan dari Fatimah. Ada ribuan atau jutaan Fatimah yang telah menunjukkan kemuliaan akhlaknya. Dari mereka kelak lahir ulama ulama ulung yang menjadi guru dan rujukan seluruh imam, termasuk. Imam Maliki, Hanafi, Syafii, dan Hambali. Bagaimana gadis sekarang? Mereka, memang tak lagi menggiling gandum, tapi menekan tuts tuts komputer. Tapi bagaimana lidah, hati, dan matanya? Bulan lalu, ada seorang gadis di Bekasi, yang nyaris mati karena bunuh diri. Rupanya ia minta dinikahkan dengan pujaan hatinya dengan pesta meriah. Karena ayahnya tak mau, dia pun nekat bunuh diri dengan minum Baygon. Untung jiwanya terselamatkan. Seandainya saja tak terselamatkan, naudzubillah min dzalik Allah mengharamkan surga untuk orang yang mati bunuh diri. Si gadis tadi rupanya menjadikan kemewahan pernikahannya sebagai sebuah prinsip hidup yang tak bisa dilanggar. Sayang, gadis malang itu mungkin belum menghayati cara Rasulullah menikahkan putrinya. Pesta pernikahan putri Rasulullah itu menggambarkan kepada kita, betapa kesederhanaan telah menjadi darah daging kehidupan Nabi yang mulia. Bahkan ketika pesta pernikahan putrinya, yang selayaknya diadakan dengan meriah, Muhammad tetap menunjukkan kesederhanaan. Bagi Rasulullah, membuat pesta besar untuk pernikahan putrinya bukanlah hal sulit. Tapi, sebagai manusia agung yang suci, kemegahan pesta pernikahan putrinya,bukan ditunjukkan oleh hal hal yang bersifat duniawi. Rasul justru menunjukkan kemegahan kesederhanaan dan kemegahan sifat qanaah, yang merupakan kekayaan hakiki. Rasululllah bersabda, Kekayaan yang sejati adalah kekayaan iman, yang tecermin dalam sifat qanaah. Iman,Nkesederhanaan, dan qanaah adalah suatu yang tak bisa dipisahkan. Seorang beriman, tecermin dari kesederhanaan hidupnya dan kesederhanaan itu tecermin dari sifatnya yang qanaah. Qanaah adalah sebuah sikap yang menerima ketentuan Allah dengan sabar; dan menarik diri dari kecintaan pada dunia. Rasulullah bersabda, Qanaah adalah harta yang tak akan hilang dan tabungan yang tak akan lenya
KATA-KATA BIJAK
Sifat qana’ah ibarat mutiara yang terpendam di bawah laut, barangsiapa yang bisa mengambilnya dan memilikinya maka beruntunglah ia.Seorang istri yang memiliki sifat qana’ah ini maka dapat membawa ketentraman dan kedamaian dalam rumah tangganya. Suami merasa sejuk berdampingan denganmu, rasanya akan enggan ia menjauh darimu.
19.10 by Kojinatul asror · 0
6. Nafsu
6. Nafsu
نفسك مطيتك فارفق بها
Nafsumu adalah kendaraanmu, maka santuni ia
ذبح النفس بسيوف المخالفة ( المقالة)
Sembelih (kalahkan) hawa nafsu dengan (selalu) menentangnya/tidak mengikutinya.
من تبعت عيناه ما في أيدي الناس طال حزنه
Barang siapa yang selalu memperhatikan pada segala sesuatu yang ada pada manusia (lain) maka berpanjanganlah kesedihannya.
القلوب اذا كلفت عميت
Hati apabila selalu dipaksa, maka butalah ia
النفس عدو من داخل البيت
Nafsu adalah musuh dari dalam rumah
من اطاع غضبه اضاع ادبه
Barang siapa melampiaskan murkanya, maka terlantarlah budi pakertinya
رب اكلة تمنع اكلات
Banyak sebuah suapan mencegah banyak makan (tidak mau tarak mengakibatkan terhalang banyak kenikmatan)
ما من احد الا له محب ومبغض, فاذا كان كذالك, فكن مع الله او مع اهل طاعة الله (الشا فعي)
Tidaklah seseorang dapat terlepas dari orang mencintainya dan orang yang membenci, jika keadaan demikian maka teteplah ( taat) pada Allah atau tetap beserta orang yang taat pada Allah.
ان احدا لا يخلو ممن يكره (الشافعي)
Sesungguhnya seseorang tidak bisa lepas dari orang yang selalu membenci.
من لم يصن نفسه لم ينفعه علمه (الشا فعي)
Barang siapa yang tidak bisa menjaga nafsunya maka tidak bermanfaat ilmunya.
لو علمت ان شرب الماء البارد ينقص من مروءتي, ما شربته (الشا فعي)
Kalau aku mengetahui bahwa sesengguhnya meminum air akan dapat menurunkan harga diriku, niscaya akau tidak akan meminumnya.
راءيت النفس تكره ما لديها, تطلب كل ممتنع عليها
Saya melihat nafsu membenci pada sesuatu yang telah berada dihadapannya dan mencari sesuatu yang masih terhalang untuk mendapatkannya.
من استغضب فلم يغضب فهو حمار, ومن استرضي فلم يرضي فهو شيطان
Barang siapa dibuat marah lalu ia tidak marah maka ia adalah himar, dan barang siapa diharapkan keridlaannya lalu ia tidak (memberi) ridla maka sesungguhnya ia adalah syaitan.
ان الزنا دين فان اقرضته # كان الوفاء من اهل بيتك, فاعلم (الشا فعي)
Sesunggunya zina kiasan hutang, maka jika engkau menghutangnya maka keluargamulah yang akan mengembalikannya
اذا انت تابعت الهوى, قادك الهوى# الي كل ما فيه عليك مقال
Jika engkau mengikuti hawa nafsu maka ia akan menuntunmu pada segala hal (yang membawa) bencana atasmu.
والنفس راغبة اذا راغبتها, واذا ترد الي قليل تقنع
Nafsu akan selalu senang tatkala engkau menyenanginya dan tatkala mendapatkan sesuatu yang sedikit maka nafsu akan menyenanginya.
وعن ابي هريرة رضي الله عنه ان رسول الله قال: لا يلدغ المؤمن من حجر مرتين
Seorang mukmin (yang sempurna) tidak akan tersengat dari (satu) lobang dua kali.
الطمع يزيل العقل
Thamak dapat menghilangkan akal.
والنفس كا لطفل ان تهمله شب علي# حب الرضا ع, وان تفطمه ينفطم
Nafsu bagaikan anak kecil (yang senang menyusu pada ibunya), ia tidak mau berhenti menyusu, namun bila sang ibu memaksa menyapihnya maka iapun dapat berhenti dari menyusu.
MOTIVASI
Lawan Hawa Nafsumu! Tiada Jalan Pintas!
Bagaimana keadaan kita jika terlihat seekor lipan di hujung kaki tetapi kemudian terpandang seekor harimau tidak berapa jauh daripada kita? Apakah kita masih memikirkan bahaya lipan atau bahaya harimau?
Ya, tentu sahaja kita akan berikhtiar untuk menyelamatkan diri daripada bahaya harimau. Walaupun lipan dekat, tetapi gigitannya tidaklah seganas cengkaman harimau.
Begitulah perumpamaan antara bahaya nafsu dengan bahaya-bahaya yang lain. Nafsu akan menyebabkan kita lebih rasa menderita. Bukan sahaja di dunia tetapi juga di akhirat.
Malangnya, hal yang sepenting itu tidak dititik-beratkan. Kejahatan hawa nafsu, sifat-sifat dan kaedah melawannya hampir tidak pernah dibicarakan. Padahal, nafsu itulah angkara segala kejahatan yang kita deritai kini. Sebut sahaja, apa kejahatannya, pasti dalangnya adalah hawa nafsu.
Kita sibuk memperketat kawalan, disiplin dan undang-undang tetapi membiarkan puncanya berkembang subur dan membiak. Mampukah pagar yang rapuh mengawal binatang buas yang bilangannya kian banyak dan tenaganya semakin kuat?
Begitulah bandingannya undang-undang ciptaan manusia dengan kejahatan hawa nafsu.
Undang-undang walaupun sehebat mana pun tidak akan berkesan jika nafsu tidak dijinakkan terlebih dahulu.
Pagar itu akan diterjah dan rebah dipijak dan diinjak menyebabkan kita terpaksa membina pagar demi pagar, berulang-kali.
Kuasai Nafsu, Kuasai Dunia
"Jika kita menguasai diri, kita akan menguasai dunia," demikian kata cerdik pandai.
Tetapi bagaimana pula kalau kita gagal menguasai diri? Ya, pasti kita pula yang akan dikuasai dunia.
Jika demikian amat buruk akibatnya lantaran dunia itu adalah 'hamba' yang baik tetapi 'tuan' yang sangat jahat. Orang yang berjaya adalah orang yang gigih mencari kebaikan dunia tetapi selamat daripada tipuannya.
Firman Allah: "Sesungguhnya tiadalah kehidupan dunia itu melainkan mata benda yang menipu daya." (Surah al-An'am 6: 32)
Al-kisah, seorang raja sedang menaiki kuda dengan angkuhnya. Dia terserempak dengan seorang petani yang soleh sedang berjalan kaki. Raja pun bertanya, "siapa kamu?"
Petani yang soleh itu menjawab, "aku seorang raja."
Raja tertawa, kemudian terus berkata dengan nada menyindir, "raja kerajaan mana?"
Petani menjawab, "raja untuk kerajaan diriku."
Raja terdiam. Dan kemudian petani itu pula bertanya, "adakah tuanku menjadi raja kepada diri sendiri?"
Raja terus terdiam kerana faham maksud kata-kata petani yang soleh itu.
Begitulah dalam kehidupan kita sehari-hari. Ramai orang besar yang hakikatnya hanya insan kerdil kerana tidak mampu melawan hawa nafsunya.
Kuasa, ilmu, harta dan nama yang tersohor tidak membawa makna dan kebahagiaan dalam hidup sekiranya hidup diperkotak-katikkan oleh hawa nafsu.
Hal ini kerana nafsu itu sifat tabiinya hanyalah mengarah kepada kejahatan. Maka hidup seseorang yang dikuasainya hanya akan penuh dengan kejahatan. Jika demikian, mana ada ketenangan dan kebahagiaan? Tidak ada kebahagiaan bagi manusia yang tenggelam dalam kejahatan.
Dikuasai dunia maksudnya, diri kita akan didorong oleh sesuatu yang berbentuk kebendaan, kemasyhuran dan jawatan dalam apa jua fikiran dan tindakan. Ketika itu kita gagal memperalatkan dunia sebaliknya dunialah yang memperalatkan kita.
Akibat gagal menguasai dirilah kebanyakan manusia sangat cintakan dunia.
Selain itu cintakan dunia akan menyebabkan manusia cenderung melakukan kejahatan. Sebab itu masyhurlah kata-kata popular dalam kalangan ahli-ahli tasawuf; cinta dunia itu adalah kepala segala kejahatan.
Apabila semua itu terjadi, manusia tidak lagi layak menjadi hamba Allah. Oleh sebab itu, untuk menjadi hamba Allah manusia mestilah menguasai dirinya.
Inilah yang dibimbangkan oleh Syeikh Ibn Ataillah dalam al-Hikam menerusi katanya:
"Bagaimana akan terang hati seseorang yang segala gambaran dunia itu terpahat dalam cermin hatinya? Atau bagaimanakah dia akan mengembara menuju kepada Allah padahal ia terbelenggu oleh nafsu syhawatnya?"
Manusia Dan Mujahadah
Seterusnya, apakah yang dimaksudkan dengan menguasai diri? Jelas maksud menguasai diri ialah menundukkan nafsu jahat yang ada di dalam diri bagi membolehkan kita melakukan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Sedangkan nafsu itu sebahagian daripada diri kita yang sentiasa ingin menghancurkan diri kita.
Berhubung dengan melawan hawa nafsu ini Imam al-Ghazali menyebutkan tiga tingkatan manusia dalam usaha memerangi hawa nafsunya:
1. Telah menyerah kalah.
Golongan ini tergolong dalam mereka yang dikuasai sepenuhnya hawa nafsunya dan tidak dapat melawannya sama sekali. Ini merupakan keadaan majoriti manusia. Mereka ini telah mempertuhankan hawa nafsunya. Firman Allah: "Maka, pernahkah kamu melihat orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya." (Surah al-Jatsiyah: 23)
2. Sedang dan sentiasa berperang.
Golongan ini terdiri daripada mereka yang sentiasa dalam bertarik tali berlawan dengan hawa nafsu. Adakalanya dia menang dan ada kalanya kalah. Insya-Allah, inilah orang yang sedang berjuang (mujahadah). Mereka ini menunaikan apa yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. melalui sabdanya yang bermaksud: "Berjuanglah kamu melawan hawa nafsumu sebagaimana kamu berjuang melawan musuh-musuhmu."
3. Orang yang telah menang.
Golongan itu terdiri daripada mereka yang berjaya menguasai sepenuhnya hawa nafsunya. Mereka ini terpelihara daripada berbuat dosa dan maksiat kecuali sangat sedikit melakukan maksiat. Perjuangan menentang hawa nafsu adalah satu bentuk perjuangan jangka panjang. Perjuangan ini hanya akan berakhir dengan kematian. Sikap waspada dan sentiasa siapa siaga amat diperlukan setiap masa.
Arti Mujahadah dan Kepentingannya
Melawan hawa nafsu bagi maksud mengawal, mengurus dan mengendalikannya adalah wajib kerana kita hanya wajar menjadi hamba Allah.
Demikian yang dapat difahami daripada kaedah, "tidak sempurna sesuatu yang wajib melainkan dengan sesuatu itu maka sesuatu itu juga menjadi wajib."
Berdasarkan itu, jika kita tidak berbuat demikian, sudah tentu kita akan berdosa. Bukankah syurga itu hanya ada pada mereka yang menundukkan kehendak nafsunya kepada kehendak Allah? Firman Allah:
"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri daripada nafsunya, maka sungguh syurgalah tempat tinggalnya" (Surah al-Naziat: 40-41)
Melawan hawa nafsu juga adalah syarat untuk mendapat pimpinan Allah.
Kepentingan melawan hawa nafsu ini ditegaskan lagi oleh Rasulullah s.a.w. menerusi sabdanya:
"Tidak beriman salah seorang antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa." Baginda juga bersabda: "Seorang mujahid (iaitu seorang yang berjihad) ialah dia yang melawan hawa nafsunya kerana Allah."
Mujahadah bermaksud berusaha untuk melawan dan menundukkan kehendak hawa nafsu.
Istilah "mujahadah" berasal daripada kata "al-jihad" iaitu berusaha segala kesungguhan, kekuatan dan kesanggupan pada jalan yang diyakini benar. Dengan kata yang lain, seorang yang bermujahadah dengan rela meninggalkan apa yang disukainya demi memburu sesuatu yang diyakininya benar, baik dan betul.
Inilah maksud kata-kata Imam al-Ghazali: "Antara tanda kecintaan hamba kepada Allah ialah dia mengutamakan perkara yang disukai Allah daripada kehendak nafsu serta peribadi, sama ada dalam aspek zahir atau batin."
Selain itu ilmu, taktik dan strategi melawan hawa nafsu wajib dipelajari. Bahkan kita tidak akan menang jika dalam menempuh jalan mujahadah hanya dilakukan dengan semberono. Malangnya, ilmu tentang mujahadah ini seolah-olah terpinggir pada masa kini. Manakala strategi melawan hawa nafsu hampir tidak dibicarakan lagi.
Ironinya, jika dengan musuh zahir yang jarang-jarang kita berdepan dengannya, kita sanggup membelanjakan jutaan ringgit untuk membeli kelengkapan perang dan sejata, mengorbankan banyak masa dan tenaga untuk persiapan berperang, tetapi dengan hawa nafsu yang setiap detik kita berperang dengannya, mengapa ambil tidak indah sahaja.
Sedangkan nafsu ini adalah musuh yang paling berbahaya, yang sepatutnya lebih diberi perhatian serius. Rasulullah s.a.w. bersabda:"Orang yang kuat bukanlah orang yang dapat mengalahkan musuhnya tetapi dapat menguasai marahnya."
Prinsip Asas Dalam Melawan Hawa Nafsu
Berikut tiga prinsip asas kaedah melawan nafsu. Tiga kaedah ini telah digariskan oleh ulama pakar dalam meneliti perjalanan hati dan nafsu manusia. Dalam kitab Minhajul Abidin misalnya, Imam Ghazali telah menggariskan tiga prinsip asas berikut:
1. Menahan atau menyekat sumber kekuatannya.
Nafsu yang diumpamakan kuda yang liar itu boleh dijinakkan dengan syarat ditahan sumber yang memberikannya tenaga. Jadi, nafsu boleh dikawal dengan menahan makan (berpuasa).
Oleh sebab itulah dalam Islam kita diwajibkan berpuasa sebulan dalam setahun. Dan digalakkan juga berpuasa sunat hari-hari tertentu. Malah mereka yang belum mampu berkahwin, nabi Muhammad s.a.w. menganjurkan mereka menjinakkan nafsu seks dengan berpuasa.
Selain menahan perut daripada banyak makan, ada lagi beberapa sumber kekuatan nafsu yang perlu disekat. Antaranya, menahan pandangan (mata) daripada yang haram, telinga daripada mendengar sesuatu yang berdosa, mulut daripada berkata-kata yang dilarang, hati daripada sifat-sifat mazmumah dan lain-lain.
Semua ini perlu diketahui dengan cara belajar. Ilmu yang berkaitan dengan menjaga pancaindera inilah yang dimaksudkan dalam ilmu tasawuf sebagai akhlak. Hukum mempelajarinya, fardhu ain bagi setiap mukhallaf.
2. Membebankan nafsu itu dengan ibadah.
Setelah nafsu yang diumpamakan sebagai kuda liar itu disekat sumber kekuatannya, langkah seterusnya ialah dengan dibebankan ibadah tertentu terutamanya ibadah khusus yang berbentuk fardhu dan sunat.
Solat terutamanya, sangat diperlukan dalam kaedah ini semata-mata untuk 'menyeksa' nafsu. Bukan sahaja solat lima waktu tetapi solat malam (qiamulalil) sangat berkesan untuk menundukan hawa nafsu.
Begitu juga dengan zikrullah yang lain seperti membaca al-Quran serta wirid-wirid tertentu (yakni yang bersumberkan al-Quran, hadis-hadis sahih dengan tunjuk ajar dan didikan syeikh atau guru yang benar serta mendapat petunjuk (mursyid).
Begitu juga dengan amalan sedekah, kerja-kerja amal, mengajar, belajar dan lain-lain amal kebajikan. Pokok pangkalnya, bebankanlah nafsu kita dengan ibadah hingga ia merasa letih untuk melakukan kejahatan.
Ingatlah nafsu itu tidak pernah puas dan kehendanya tidak terbatas, maka ibadah yang dapat menundukkannya hendaknya begitu juga. Jangan terbatas dan jangan dibatasi oleh rasa puas.
3. Berdoa minta bantuan Allah untuk menewaskannya.
Usaha menentang hawa nafsu hendaklah dimulakan, diiringi dan disudahi dengan berdoa kepada Allah.
Nafsu itu makhluk Allah, maka Allah sahaja yang mampu memudahkan diri manusia untuk menguasai dirinya sendiri (nafsu).
Bahkan, usaha awal kita untuk memperbaiki diri perlulah dimulai dengan membentuk komunikasi dan interaksi yang harmoni dengan Ilahi.
Hubungan ini dibentuk melalui doa. Jika Allah permudahkan, jalan mujahadah yang payah akan menjadi mudah. Bantuan Allah inilah yang sangat kita dambakan. Malah inilah pesan Rasululllah s.a.w. kepada Muaz bin Jabal dengan katanya:
"Wahai Muaz, aku sangat cinta kepadamu. Maka selepas kau mengerjakan solat jangan sekali-kali kau lupa berdoa kepada Allah dengan doa ini:
"Ya Allah, bantulah aku mengingati-Mu, bantulah aku mensyukuri nikmat-Mu dan bantulah aku untuk mmperbaiki ibadah kepada-Mu."
Banyak lagi doa-doa yang dianjurkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam bermujahadah melawan hawa nafsu ini. Antara doanya itu ialah:
"Ya Allah ya Tuhanku, berilah aku taqwa, dan bersihkanlah diriku. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik yang membersihkan. Engkaulah pelindungku dan pemimpinku."
Langkah-Langkah Jalan Mujahadah
Langkah-langkah tersusun untuk melawan hawa nafsu seperti berikut:
1. Belajar mengenai sifat nafsu dan angkaranya.
Belajar mengenai sifat-sifat mahmudah dan mazmumah (ilmu akhlak atau tasawuf) adalah wajib.
Kita mesti mendapat ilmu yang digali daripada al-Quran dan Sunnah untuk mengetahui sifat-sifat nafsu, angkara kejatannya dan bagaimana melawannya. Para ulama telah mempermudahkan ilmu-ilmu ini mengikut kategorinya tersendiri.
2. Membina kesedaran dan keazaman yang tinggi.
Tidak cukup dengan mempunyai ilmu sahaja tanpa kesedaran dalam hati dan keazaman yang kuat untuk mengamalkannya. Bagaimana jika kita hanya ada senjata (ilmu) tetapi tidak ada keingininan yang kuat untuk mngamalkannya apabila diserang musuh?
Ilmu bukan untuk pengetahuan dan kefahaman semata-mata, tetapi yang lebih penting untuk diamalkan.
3. Mempraktikkan ilmu.
Inilah tahap yang paling sukar tetapi inilah tahap yang paling penting.
Perkara ini memerlukan satu iltizam yang kuat dalam diri kerana apa yang disukai nafsu adalah juga yang disukai oleh diri kita sendiri. Ramai orang yang tahu sesuatu kebaikan tetapi masih malas melakukannya. Dan ramai yang tahu sesuatu kejahatan tetapi masih tega melakukannya.
Semua itu kerana mereka belum 'mahu', dan baru sekadar 'tahu'.
Pengetahuan itu dicapai melalui proses belajar manakala kemahuan dibina dengan mempraktikkan apa yang telah kita pelajari. Dengan mempraktikkan ilmu barulah ilmu yang bertapak di akal dapat dipasakkan ke dalam hati. Oleh sebab itu 'tahu' tempat letakkannya di akal tetapi 'mahu' itu letaknya di hati.
4. Terus melatih diri dan bersifat konsisten melawannya.
Ramai juga orang yang telah tahu dan mahu melakukan kebaikan dan meninggalkan kejahatan, tetapi tidak lama, mereka berpatah semula ke belakang. Bak kata peribahasa Melayu sekadar "hangat-hangat tahi ayam". Mereka tidak berdaya untuk konsisten (istiqamah) dalam kebenaran.
Apa yang perlu ialah latihan yang berterusan agar tahap pengetahuan dan kemahuan itu diteruskan hingga ke tahap kemampuan.
Imam Ghazali berpesan nafsu tidak dapat dikalahkan dengan tergesa-gesa. Kehendaknya tidak boleh ditekan sekali gus melainkan perlu ditahan secara bertahap-tahap.
Latihan menundukkan hawa nafsu ini perlu dilaksanakan sedikit demi sedikit tetapi istiqamah selaras dengan sabda Rasulullah s.a.w.:
"Amalan yang baik ialah amalan yang berterusan (konsisten) sekalipun sedikit."
"Alah bisa, tegal biasa," begitulah nafsu yang jahat jika dilatih berterusan untuk melakukan kebaikan, akan terbiasalah nafsu itu dengan kebaikan dan kebajikan.
Sampai ke tahap ini, nafsu itu akan menjadi tenaga penggerak atau kenderaan (kuda tunggangan) kepada manusia. Umpama, racun pada ular senduk – di situ ada racun, di situlah juga ada penawarnya.
Sebab itu ditegaskan berkali-kali bahawa nafsu itu bukan untuk dihapus tetapi untuk diurus.
Jika diuruskan dengan baik, nafsu akan membawa kepada kemajuan rohaniah dan material dalam kehidupan.
Nafsu seks yang diurus melalui pernikahan yang sah, akan memberi ketenangan, keberkatan dan rahmat dalam diri suami dan isteri. Ia juga meneruskan kesinambungan zuriat yang akan menjadi tenaga penggerak kepada pembangunan ummah.
Begitu juga nafsu makan yang terurus, akan memberi tenaga untuk beribadah dan menyebabkan terbentuknya jaringan perniagaan, industri makanan, hub halal, inovasi dan teknologi makanan dalam bidang bioteknologi dan sebagainya.
Manusia yang dibekalkan dengan unsur nafsu inilah yang menjadi sebab mereka dilantik menjadi khalifah di muka bumi – bukan malaikat, kerana dengan nafsu makmurlah muka bumi ini dengan pembangunan yang bersendikan hukum Allah.
Sebaliknya, malaikat tidak mempunyai potensi ini kerana mereka sepi daripada sebarang keinginan dan rangsangan. Namun, jika nafsu tidak terurus manusia akan jatuh ke tahap yang lebih hina daripada haiwan (makhluk nafsu tanpa akal).
Jangan menoleh ke belakang... tempuhlah jalan mujahadah.
Itulah jalan yang penuh saadah (kebahagiaan). Walaupun itu adalah jalan yang payah, tetapi itulah jalan yang paling mudah.
Tidak ada jalan pintas!
KATA-KATA BIJAK
1. Saat kita mampu menahan diri untuk tidak menuruti segala keinginan nafsu, maka kita akan menjadi rajanya. Tapi, jika kita mengikuti segala keinginan nafsu, maka kita akan berubah total menjadi hambanya. Orang yg bisa bersabar dari bujukan nafsunya, ia akan menjadi mulia. Bahkan lebih mulia dari Malaikat. Orang jg bisa juga menjadi lebih hina dari Hewan, kala ia mengikuti segala keinginan nafsunya.
2. NAFSU,mengukur wanita itu atas dasar paras rupanya. AKAL,menilai wanita atas dasar kepintarannya. Dan HATI,menobatkan wanita itu atas dasar keteguhan imannya…
19.03 by Kojinatul asror · 0
5. Perlahan-lahan
5. Perlahan-Lahan
من استعجل شيئا قبل اوانه عوقب بحرمانه
Barang siapa tergesa-gesa pada sesuatu sebelum waktunya, maka akan terhalang untuk mendapatkannya.
في التائنى السلامة وفي العجلة الندامة
Dalam perlahan-lahan terdapat keselamatan. Dan dalam ketergesa-gesaan terdapat penyesalan.
من تتانى ادرك ما تمنى
Barang siapa perlahan-lahan, maka akan mendapatkan sesutu yang diharapkan. Alon-alon seng penting kelakon.
العجلة فرصة العجزة
Tergesa-gesa adalah peluang menuju kelemahan.
الماء برقه يقطع الحجر بشداده
Air dengan kelembutanya dapat memecahkan batu beserta dengan kerasnya batu.
ثمرة التفريط الندامة و ثمرة الحزم الندامة
Buah sembrono atau lengah itu penyesalan dan buah cermat itu adalah keselamatan
MOTIVASI
Abu Yazid Al Busthami, pelopor sufi, pada suatu hari pernah didatangi seorang lelaki yang wajahnya kusam dan keningnya selalu berkerut.Dengan murung lelaki itu mengadu,”Tuan Guru, sepanjang hidup saya, rasanya tak pernah lepas saya beribadah kepada Allah. Orang lain sudah lelap, saya masih bermunajat. Isteri saya belum bangun, saya sudah mengaji. Saya juga bukan pemalas yang enggan mencari rezeki. Tetapi mengapa saya selalu malang dan kehidupan saya penuh kesulitan?”
Sang Guru menjawab sederhana, “Perbaiki penampilanmu dan rubahlah roman mukamu. Kau tahu, Rasulullah SAW adalah penduduk dunia yang miskin namun wajahnya tak pernah keruh dan selalu ceria. Sebab menurut Rasulullah SAW, salah satu tanda penghuni neraka ialah muka masam yang membuat orang curiga kepadanya.” Lelaki itu tertunduk. Ia pun berjanji akan memperbaiki penampilannya.
Mulai hari itu, wajahnya senantiasa berseri. Setiap kesedihan diterima dengan sabar, tanpa mengeluh. Alhamdullilah sesudah itu ia tak pernah datang lagi untuk berkeluh kesah. Keserasian selalu dijaga. Sikapnya ramah,wajahnya senantiasa mengulum senyum bersahabat. Roman mukanya berseri.
Tak heran jika Imam Hasan Al Basri berpendapat, awal keberhasilan suatu pekerjaan adalah roman muka yang ramah dan penuh senyum. Bahkan Rasulullah SAW menegaskan, senyum adalah sedekah paling murah tetapi paling besar pahalanya.
Demikian pula seorang suami atau seorang isteri. Alangkah celakanya rumah tangga jika suami isteri selalu berwajah tegang. Begitu juga celakanya persahabatan sekiranya dikalangan mereka saling tidak berteguran. Sebab tak ada persoalan yang diselesaikan dengan mudah melalui kekeruhan dan ketegangan. Dalam hati yang tenang, pikiran yang dingin dan wajah cerah, Insya Allah, apapun persoalannya niscaya dapat diatasi. Inilah yang dinamakan keluarga sakinah, yang didalamnya penuh dengan cinta dan kasih sayang.
KATA-KATA BIJAK:
Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan.
Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap
anda tepat, dan tidak ada yang bisa menolong
bila sikap anda salah
19.01 by Kojinatul asror · 0
4. Mencari ilmu
4. Mencari Ilmu
طلب العلم فريضة علي كل مسلم ومسلمة
Mencari ilmu (sangat) diwajibkan atas setiap muslim laki-laki dan perempuan.
إنما العلمُ بالتعلُّمِ والحِلْمُ بالتحلُّمِ(الحديثِ)
(Keberhasilan) ilmu tak lain dengan belajar, santun tak lain dengan usaha berbuat santun.
افات العلم النسيان
Bencananya ilmu adalah lupa
جارب ولاحظ تكن عارفا
Coba dan perhatikan niscaya engkau faham
قيمة العلم مع العمل
Harga ilmu adalah pengamalan
طلب العلم من المهد الي اللحد
Menuntut ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat.
وكل من بغير علم يعمل # عمله مردودة لا تقبل
Setiap orang yang beramal dengan tanpa dasar ilmu, maka amalnya tertolak, tidak diterima.
من لم يذق مر التعلم ساعة # تجرع ذل الجهل طول حياته (شا فعي)
Barang siapa yang tidak pernah merasakan pahitnya mencari ilmu dalam sesaat, maka ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hayatnya.
من فاته علم وقت شبابه # فكبراربعا عليه لوفاته (شا فعي)
Barang siapa kehilangan ilmu dikala mudanya, maka bacakan takbir empat kali padanya ( sebagai tanda) untuk kematiannya.
العلم صيد والكتابة قيدها, قيد صيودك بحبال واثقة
Ilmu (laksana) hewan buruan, sedang tulisan adalah pengikatnya, ikat hewan buruanmu dengan tali yang kuat.
الكسلان لاتستحقه الحياة
Seorang pemalas tidaklah ( layak) mendapatkan hak hidup.
لايدرك العلم الا بالصبر علي الذل (شافعي)
Ilmu tidak akan didapatkan kecuali dengan sabar atas kehinaan.
العلم نور والجهل ظلمة
Ilmu laksana cahaya, sedang kebodohan laksana kegelapan.
اجهد ولا تكسل ولاتكن غافلا فندامة العقبى لمن يتكاسل
Bersungguh-sungguhlah, jangan bermalas-malasan, jangan pula terlena, (karena) penyesalan bertempat pada akir bagi seseorang yang bermalas-malasan.
الحكمة ضالة المؤمنين اينما وجدوا اخذوا
Hikmah (ilmu yang disertai amal) adalah kiasan harta yang telah hilang milik mukmin, dimanapun ia menjumpai, pastilah mengambilnya.
فان كبير القوم لا علم عنده # صغير اذا التفتت المحافل (شا فعي)
Besarnya kaum ( sebuah kelompok) yang tiada ilmu padanya, maka (pada hakikatnya) ia kecil tatkala terhimpun pada sebuah pertemuan.
وان صغير القوم ان كان عالما # كبير اذاردت عليه المحافل (شا فعي)
Sesungguhnya besarnya kaum (sebuah kelompok), kalaupun terdapat ilmu padanya, ia adalah besar (kalau) dikembalikan pada pertemuan.
العلم بلاعمل كالشجر بلا ثمر
Ilmu yang tidak diamalkan bagailan pohon yang tidak berbuah.
التعلم في وقت الصغار كالنقص علي الحجر,
والتعلم في وقت الكبار كالنقص علي الماء
Belajar diwaktu kecil (bagaikan) mengukir diatas batu,
(sedang belajar) diwaktu tua (bagaikan) mengukir di atas air.
العالم اذا اراد بعلمه وجه الله هابه كل شئ,
واذا اراد اان يكثر به الكنوز هاب من كل شئ (رواه الديلمي)
Orang yang berilmu tatkala ia menghendaki ilmunya ia kehendaki ikhlas karena Allah, maka segala sesuatu akan takut padanya, dan tatkala ia kehendaki untuk memperbanyak harta maka ia akan takut pada segala sesuatu.
العلم في الصدور لا في السطور
Ilmu itu (bersemayam) pada hati, bukan pada tulisan.
ليس العلم ما حفظ وانما العلم مانفع (شافعي)
Bukanlah yang dinamakan ilmu adalah sesuatu yang telah dihafal, (hakikat) ilmu tak lain adalah suatu hal yang bermanfaat
لوكان العلم دون التقوى شرفا لكان ابليس اشرف خلق الله
Kalaupun kemulyaan ilmu dibawah takwa, niscaya iblis (akan menjadi) paling mulia diantara ciptaan Allah.
تعلم فليس المرء يولد عالما # وليس اخوالعلم كمن هو جاهل (شا فعي)
Belajarlah…! (karena) tiada orang yang terlahir dalam keadaan pandai, dan tidaklah orang yang memiliki ilmu (kedudukannya) bagai orang yang bodoh.
وذات الفتى والله بالعلم والتقى # اذا لم يكونا لا اعتبار لذاته (شافعي)
Demi Allah…harga seseorang terletak pada ilmu dan ketakwaannya, tatkala keduanya telah tiada padanya, maka tiada harga tentang keberadaanya.
ما افلح في علم الا من طلبه في قلة (شافعي)
Tiada keberuntungan pada masalah ilmu, kecuali bagi seseorang yang mencarinya dalam keadaan serba kekurangan.
اصبر علي مر الجفا من معلم # فان رسوب العلم من نفراته (شافعي)
Bersabarlah atas pahit kerasnya seorang guru, karena lepasnya ilmu dikarenakan dari lari darinya (tidak mampu bersabar)
الناس اعداء ما جهلوا
Manusia adalah musuh dari segala hal yang mereka tidak bisa.
العلم للعمل لاللجدل
Ilmu untuk diamalkan, bukan untuk perdebatan.
من دام كسله خاب امله
Barang siapa lama malasnya, maka terbengklailah cita-citanya.
السبق حرف والتكرار الف (التعليم والمتعليم)
Pengajian satu huruf, maka pengulangannya seribu kali.
وما اللذة الابعد التعب
Tiada kelezatan kecuali setelah kepayahan.
العقل السليم في الجسم السليم
Akal yang sehat terletak pada badan yang sehat.
الظر ف الوقوف مع الحق كما وقف (شافعي)
Kecerdasan adalah diam baersama Allah sebagaimana Ia (Allah) menghendakainya.
اساس كل خير حسن الاستماع
Dasar segala kebaikan adalah baiknya pendengaran.
الجهل مطية, من ركبها ذل, ومن صاحبها ضل
Kebodohan kiasan kendaraan, barang siapa mengendarainya maka hinalah ia, dan barang siapa menemaninya maka tersesatlah ia.
اطلب العلم ولو بالصين
Tuntutlah ilmu walaupun kenegeri Cina.
الكسل لا يطعم العسل
Pemalas tak (selayaknya) merasakan madu (kenikmatan)
وخيرُ جليسٍ في الأنامِ كتابُ(المقالة)
Teman terbaik dalam dunia adalah kitab.
MOTIVASI
Mu'adz bin Jabal r.a. berkata, "Pelajarilah ilmu, sebab memperlajarinya karena Allah adalah ketakwaan, mencarinya ibadah, mengulanginya tasbih, mengkajinya jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak tahu sedekah, mengorbankannya kepada yang berhak adalah kurban (kedekatan kepada Allah). Dengan ilmu, Allah dikenal dan disembah serta diesakan, dengan ilmu halal dan haram diketahui, dan dengan ilmu hubungan rahim disambung. Ilmu adalah teman di kala sendiri, kawan di kala kesepian, petunjuk di kala gembira, penolong di kala berada dalam bahaya, pendamping di masa kekosongan, teman di sisi orang-orang terasing, dan mercusuar jalan surga. Allah mengangkat berbagai kaum dengan ilmu sehingga menjadikan mereka pemimpin dan tokoh yang diteladani sebagai petunjuk jalan kepada kebaikan. Bekas-bekas perjalanan mereka diikuti dan perbuatan mereka dicatat. Para malaikat sangat senang berteman dengan mereka dan mengelus mereka dengan sayapnya. Segala yang basah dan kering beristighfar untuknya. Ikan paus dan singa laut, binatang buas dan ternak darat serta bintang-bintang di langit beristighfar untuknya. Ilmu adalah kehidupan hati yang buta, cahaya penglihatan dari kegelapan, dan kekuatan bagi kelemahan badan. Dengannya seorang hamba mencapai derajat orang-orang yang baik dan derajat yang paling tinggi. Mengingat ilmu sebanding (pahalanya) dengan puasa, dan mempelajarinya sebanding dengan shalat malam. Ilmu adalah imamnya amal perbuatan. Amal perbuatan adalah pengikutnya. Ilmu memberikan ilham kepada orang-orang yang berbahagia dan menjauhi orang-orang yang menderita." Saat ditanya siapakah orang yang hina-dina itu, Dzun Nun menjawab, "Orang yang tidak mengetahui jalan menuju Allah SWT dan tidak berupaya mengetahuinya." Abu Hamzah al-Bazzaz berkata, "Siapa yang telah mengetahui jalan kebenaran, maka terasa mudah baginya menempuhnya. Tidak ada petunjuk di jalan itu selain mengikuti Rasulullah saw. dalam perkataan, perbuatan, dan sikap beliau." Seorang sufi yang zuhud, Muhammad bin al-Fadhl, berkata, "Pudarnya Islam karena ulah empat tipe manusia. Pertama: orang yang tidak mengamalkan ilmu mereka. Kedua: orang yang beramal tanpa landasan ilmu. Ketiga: orang yang tidak beramal dan tidak berilmu. Dan keempat: orang yang menghalangi manusia mencari ilmu."
Syeikh Abdul Kadir semasa berusia 18 tahun meminta izin ibunya merantau ke Baghdad untuk menuntut ilmu agama. Ibunya tidak menghalang cita-cita murni Abdul Kadir meskipun keberatan melepaskan anaknya berjalan sendirian beratus-ratus batu
Sebelum pergi ibunya berpesan supaya jangan berkata bohong dalam apa jua keadaan. Ibunya membekalkan wang 40 dirham dan dijahit di dalam pakaian Abdul Kadir. Selepas itu ibunya melepaskan Abdul kadir pergi bersama-sama satu rombongan yang kebetulan hendak menuju ke Baghdad.
Dalam perjalanan, mereka telah diserang oleh 60 orang penyamun. Habis harta kafilah dirampas tetapi penyamun tidak mengusik Abdul Kadir kerana menyangka dia tidak mempunyai apa-apa. Salah seorang perompak bertanya Abdul Kadir apa yang dia ada. Abdul Kadir menerangkan dia ada wang 40 dirham di dalam pakaiannya. Penyamun itu hairan dan melaporkan kepada ketuanya. Pakaian Abdul Kadir dipotong dan didapati ada wang sebagaimana yang diberitahu.
Ketua penyamun bertanya kenapa Abdul Kadir berkata benar walaupun diketahui wangnya akan dirampas? Abdul Kadir menerangkan yang dia telah berjanji kepada ibunya supaya tidak bercakap bohong walau apa pun yang berlaku. Apabila mendengar dia bercakap begitu, ketua penyamun menangis dan menginsafi kesalahannya. Sedangkan Abdul Kadir yang kecil tidak mengingkari kata-kata ibunya betapa dia yang telah melanggar perintah Allah sepanjang hidupnya. Ketua penyamun bersumpah tidak akan merompak lagi. Dia bertaubat di hadapan Abdul Kadir diikuti oleh pengikut-pengikutnya
.
Moral dan Iktibar :
Ilmu Agama perlu dituntut meskipun terpaksa berjalan jauh;
Kata-kata ibu menjadi pendorong dan perangsang dalam hidup;
Berkata benar adalah satu kekuatan yang boleh memberi keinsafan kepada orang lain;
Niat yang baik dan ikhlas mendapat keberkatan daripada Allah.
KATA-KATA BIJAK:
1. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:
Sebaik-baik warisan adalah ilmu yang berguna
Sebaik-baik tindakan adalah akhlak yang mulia
Sebaik-baik bekal adalah takwa
Sebaik-baik dagangan adalah taat beragama
Sebaik-baik sahabat adalah perilaku utama
Sebaik-baik pendamping adalah sikap bijaksana
Sebaik-baik kekayaan adalah jiwa lapang dada
Sebaik-baik pertolongan adalah petunjuk yang sebenarnya
Dan sebaik-baik guru adalah kematian yang akan tiba
2. Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi
pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus
belajar, akan menjadi pemilik masa depan
3. Jika kita hanya mengerjakan yang sudah kita
ketahui, kapankah kita akan mendapat
pengetahuan yang baru ? Melakukan yang belum
kita ketahui adalah pintu menuju pengetahuan
4. Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup
adalah membiarkan pikiran yang cemerlang
menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang
mendahulukan istirahat sebelum lelah.
5. Akan kuberikan ilmu yang kumiliki kepada siapapun, asal mereka mau memanfaatkan ilmu yang telah kuberikan itu. (Imam Syafi’i)
6. Dalam shalatku selama 40 tahun, aku tak pernah lupa mendo’akan guruku yang bernama Imam Syafi’i. Itu kulakukan karena aku memperoleh ilmu dari Allah lewat beliau. (Yahya bin Said al-Qathan).
7. Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita
adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba
itulah kita menemukan dan belajar membangun
kesempatan untuk berhasil
8. Untuk menemukan sesuatu yang baru tidaklah harus mencari ketempat yang baru, tetapi menciptakan penglihatan yang baru ( Peter Mc Williams)
9. Aku lebih takut kepada orang yang melatih 1 tendang 1000 kali, daripada seorang yang melatih 1000 tendangan 1 kali. - Bruce Lee.
19.00 by Kojinatul asror · 0
3. Sukur
3. Sukur
من لم يرض بقضاءي ولم يصبر علي بلاءي
ولم يشكر علي نعماءي فليتخذ ربا سواءي (حديث القدسي)
Barang siapa tidak ridla pada ketentuanKu dan tidak syukur pada cobaanKu dan tidak bersukur pada nikmatKu maka carilah Tuhan selain Aku (Allah).
قليل تؤدي شكره خير من كثير لا تطيقه
Sesuatu yang sedikan yang mendatangkan sukur lebih baik daripada banyak yang engkau tidak kuat menanggungnya.
من لم يقبل علي الله بلطفات الاحسان # قيد اليه بسلاسل الامتحان (حكم)
Barang siapa yang tidak menghadap Allah dengan segala kebaikanNya, maka akan diikat dengan rantai-rantai cobaan.
MOTIVASI
Abu Yahya Shuhaib bin Sinan Ra. meriwayatkan Rasulullah Saw. bersabda “Sungguh mengherankan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya segala urusannya baginya memberikan kebaikan hal ini tidak dimiliki oleh seorangpun melainkan oleh seorang mukmin. Bila mendapatkan harta atau kesuksesan selalu bersyukur maka jadilah itu kebaikan baginya dan bila mendapatkan kesengsaraan dia selalu bersabar dan itupun menjadikan kebaikan baginya.”
Beriman kepada Qadha dan Qadar Qadha dan qadar baik buruknya semua adl datang dari Allah. Ketahuilah bila ada musibah menimpa dirimu maka itu bukanlah krn kesalahanmu dgn kata lain kesalahan yg kamu lakukan tidak mesti menyebabkan musibah bagimu di dunia. Karena semua telah ada dalam ketentuan Allah Ta’ala.
Ridha dgn bagian rezki dari Allah dan menerima berbagai kemungkinan yg bakal ditimpakan Allah padanya. Maka siapa saja yg tidak beriman kepada qadha dan qadar dia pasti hancur.
Sebagai contoh krn keimanan kepada qadha dan qadar adl kisah urwab bin Zubair. Kaki beliau terkena penyakit kanker sehingga harus diamputasi . Keadaan itu beliau terima dgn tabah. Ketika dokter menyarankan agar beliau minum khamar agar mengurangi rasa sakit saat diamputasi beliau menolak. Beliau berkata aku tunjukkan cara lain yakni tatkala aku sedang shalat maka kerjakanlah apa yg anda inginkan krn hati tatkala sedang bergantung kepada Allah maka tidak akan merasa dgn apa yg sedang mengenai dirinya. Benra tatkala urwah sedang bertakbir dan shalat operasipun dilakukan beliau tidak bergerak sedikitpun dan amputasi itu pun berhasil dgn baik.” Allahu Akbar”. Itulah buah iman yg sungguh-sungguh kepada qadha dan qadar. “Dan tidak akan diberikan sifat itu kecuali kepada oarang-orang yg sabar dan tidak diberikan melainkan kepada orang yg mempunyai kebahagiaan.”
Faham Ilmu Syariat Para ulama yg mengenal Allah merekalah orang-orang yg berbahagia. Mereka tidak memikirkan kecuali tentang berbagai ilmu yg diberikan Allah padanya.
Adalah abu Al hasan Az Zahid krn keberaniannya menentang penguasa zhalim Mesir di masanya Ahmad Toulun maka ia dimasukkan ke dalam kerangkeng singa. Seketika singa yg lapar itu meraung dan mendekat. Abu Al Hasan tetap tenang duduk tidak bergerak dan tidak mempedulikan. Orang-orang yg menyaksikan sudah tampak tegang. Ada yg ketakutan krn pemandangan yg amat mengerikan bahkan ada yg sampai menangis. Singa itu maju mundur mendekatinya kadang meraung lalu diam. Sesudah itu ia mengangguk-anggukkan kepalanya mendekat kepada Abul Hasan lalu menciumnya dan pergi tanpa berbuat apa-apa. Orang-orangpun spontan berteriak dgn takbir dan tahlil.
Apa yang lebih hebat dari itu? tatkala Ibnu Toulon bertanya kepada Abu Al Hasan tentang apa yg ada di dalam benaknya ketika itu ia menjawab “Aku berfikri tentang air liur singa tersebut seandainya mengenaiku. Apakah najis atau tidak?” Apa kamu tidak takut kepada singa? tanya Ibnu Toulon. Tidak karena sesungguhnya Allah melindungiku.” Inilah kebahagiaan yg nyata yg dihasilkan oleh iman dan ilmu yg bermanfaat. Inilah kelapangan yg selalu diburu oleh tiap manusia.
KATA-KATA BIJAK:
1. Syukurilah kesulitan. Karena terkadang kesulitan mengantar kita pada hasil yang lebih baik dari apa yang kita bayangkan
2. Syukur itu adalah tingkatan paling tinggi dan paling luhur sekalipun kita sedang dalam menghadapi derita atau pahitnya cobaan. Karena jika kita membandingkan nikmat2 Allah yg di karuniakan kpd kita yg sangat banyak jumlahnya dgn cobaan yg pernah kita alami maka kita akan dapati bahwa cobaan2 itu kecil di banding nikmat.
3. Bersukur tiap hari adalah satu syarat untuk mendatangkan kekayaan. (Welace Wattles)
4. Orang yang membandingkan diri dng orang lain tak akan bahagia. Mereka tak pernah bersyukur atas apa pun yg mereka raih.
5. Jika kamu terus mengeluh atas apa yang tak kamu miliki, kamu tak akan pernah merasa cukup dalam hidup ini. Syukuri apa yang kamu miliki!
19.00 by Kojinatul asror · 0
2. Takwa
2. Takwa
من لم تعزه التقوى فلاعز له (شافعي)
Barang siapa ketakwaannya tidak dapat menjadikan mulia padanya, maka tiada kemulyaan baginya.
من اتقي الله اتقاه كل شيء # و لم يتق الله اتقي من كل شيء( الحديث او كما قال)
Barang siapa bertakwa kepada Alla maka segala Sesutu akan takut/tuduk padanya, barang siapa tidak bertakwa pada Allah
وذات الفتى والله بالعلم والتقى # اذا لم يكونا لا اعتبار لذاته (شافعي)
Demi Allah…harga seseorang terletak pada ilmu dan ketakwaannya, tatkala keduanya telah tiada padanya, maka tiada harga baginya
انفع الدخائر التقوى, واضرها العدوان ( شافعي)
Lebih berguna harta simpanan adalah takwa, dan lebih berbahayanya adalah permusuhan.
MOTIVASI
Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS At Thalaq: 2-3)
Apa yang kita takutkan dari setan? manusia terbiasa mendidik anaknya, “Awas ada setan !!” hingga anak tumbuh dewasa dengan takut kepada setan, bukan takut kepada Allah. Bila kita hanya takut kepada Tuhannya setan, maka setan akan mengecil seperti lalat. Dengan berdoa minta perlindungan kepada Allah dari setan, kemanapun kita tidak was-was, tidak gemetar bila sendiri dlm rumah, dst.. (Muhammad agung)
Ibrahim al-Khawas ialah seorang wali Allah yang terkenal keramat dan dimakbulkan segala doanya oleh Tuhan. Beliau pernah menceritakan suatu peristiwa yang pernah dialaminya. Katanya, "Menurut kebiasaanku, aku keluar menziarahi Mekah tanpa kenderaan dan kafilah. Pada suatu kali, tiba-tiba aku tersesat jalan dan kemudian aku berhadapan dengan seorang rahib Nasrani (Pendita Kristian)."
Bila dia melihat aku dia pun berkata, "Wahai rahib Muslim, bolehkah aku bersahabat denganmu?"
Ibrahim segera menjawab, "Ya, tidaklah aku akan menghalangi kehendakmu itu."
Maka berjalanlah Ibrahim bersama dengannya selama tiga hari tanpa meminta makanan sehinggalah rahib itu menyatakan rasa laparnya kepadaku, katanya, "Tiadalah ingin aku memberitakan kepadamu bahawa aku telah menderita kelaparan. Kerana itu berilah aku sesuatu makanan yang ada padamu."
Mendengar permintaan rahib itu, lantas Ibrahim pun bermohon kepada Allah dengan berkata, "Wahai Tuhanku, Pemimpinku, Pemerintahku, janganlah engkau memalukan aku di hadapan seteru engkau ini."
Belum pun habis Ibrahim berdoa, tiba-tiba turunlah setalam hidangan dari langit berisi dua keping roti, air minuman, daging masak dan tamar. Maka mereka pun makan dan minum bersama dengan seronok sekali.
"Sesudah itu aku pun meneruskan perjalananku. Sesudah tiga hari tiada makanan dan minuman, maka di kala pagi, aku pun berkata kepada rahib itu, "Hai rahib Nasrani, berikanlah ke mari sesuatu makanan yang ada kamu. Rahib itu menghadap kepada Allah, tiba-tiba turun setalam hidangan dari langit seperti yang diturunkan kepadaku dulu."
Sambung Ibrahim lagi, "Tatkala aku melihat yang demikian, maka aku pun berkata kepada rahib itu - Demi kemuliaan dan ketinggian Allah, tiadalah aku makan sehingga engkau memberitahukan (hal ini) kepadaku."
Jawab rahib itu, "Hai Ibrahim, tatkala aku bersahabat denganmu, maka jatuhlah telekan makrifat (pengenalan) engkau kepadaku, lalu aku memeluk agama engkau. Sesungguhnya aku telah membuang-buang masa di dalam kesesatan dan sekarang aku telah mendekati Allah dan berpegang kepada-Nya. Dengan kemuliaan engkau, tiadalah dia memalukan aku. Maka terjadilah kejadian yang engkau lihat sekarang ini. Aku telah mengucapkan seperti ucapanmu (kalimah syahadah)."
"Maka sukacitalah aku setelah mendengar jawapan rahib itu. Kemudian aku pun meneruskan perjalanan sehingga sampai ke Mekah yang mulia. Setelah kami mengerjakan haji, maka kami tinggal dua tiga hari lagi di tanah suci itu. Suatu ketika, rahib itu tiada kelihatan olehku, lalu aku mencarinya di masjidil haram, tiba-tiba aku mendapati dia sedang bersembahyang di sisi Kaabah."
Setelah selesai rahib itu bersembahyang maka dia pun berkata, "Hai Ibrahim, sesungguhnya telah hampir perjumpaanku dengan Allah, maka peliharalah kamu akan persahabatan dan persaudaraanku denganmu."
Sebaik saja dia berkata begitu, tiba-tiba dia menghembuskan nafasnya yang terakhir iaitu pulang ke rahmatullah. Seterusnya Ibrahim menceritakan, "Maka aku berasa amat dukacita di atas pemergiannya itu. Aku segera menguruskan hal-hal pemandian, kapan dan pengebumiannya. Apabila malam aku bermimpi melihat rahib itu dalam keadaan yang begitu cantik sekali tubuhnya dihiasi dengan pakaian sutera yang indah."
Melihatkan itu, Ibrahim pun terus bertanya, "Bukankah engkau ini sahabat aku kelmarin, apakah yang telah dilakukan oleh Allah terhadap engkau?"
Dia menjawab, "Aku berjumpa dengan Allah dengan dosa yang banyak, tetapi dimaafkan dan diampunkan-Nya semua itu kerana aku bersangka baik (zanku) kepada-Nya dan Dia menjadikan aku seolah-olah bersahabat dengan engkau di dunia dan berhampiran dengan engkau di akhirat."
Begitulah persahabatan di antara dua orang yang berpengetahuan dan beragama itu akan memperolehi hasil yang baik dan memuaskan. Walaupun salah seorang dahulunya beragama lain, tetapi berkat keikhlasan dan kebaktian kepada Allah, maka dia ditarik kepada Islam dan mengalami ajaran-ajarannya.
Tentang Berkah Sebuah Ketakwaan
________________________________________
Ada seorang pemuda yang bertakwa, tetapi dia sangat lugu. Suatu kali dia belajar pada seorang syaikh. Setelah lama menuntut ilmu, sang syaikh menasihati dia dan teman-temannya, “Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya, seorang alim yang menadahkan tangannya kepada orang-orang berharta, tak ada kebaikan dalam dirinya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah dengan pekerjaan ayah kalian masing-masing. Sertakanlah selalu ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut.”
Maka, pergilah pemuda tadi menemui ibunya seraya bertanya, “Ibu, apakah pekerjaan yang dulu dikerjakan ayahku?” Sambil bergetar ibunya menjawab, “Ayahmu sudah meninggal. Apa urusanmu dengan pekerjaan ayahmu?” Si pemuda ini terus memaksa agar diberitahu, tetapi si ibu selalu mengelak. Namun, akhirnya si ibu terpaksa angkat bicara juga, dengan nada jengkel dia berkata, “Ayahmu itu dulu seorang pencuri!”
Pemuda itu berkata, “Guruku memerintahkan kami -murid-muridnya- untuk bekerja seperti pekerjaan ayahnya dan dengan ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut.”
Ibunya menyela, “Hai, apakah dalam pekerjaan mencuri itu ada ketakwaan?” Kemudian anaknya yang begitu polos menjawab, “Ya, begitu kata guruku.” Lalu dia pergi bertanya kepada orang-orang dan belajar bagaimana para pencuri itu melakukan aksinya. Sekarang dia mengetahui teknik mencuri. Inilah saatnya beraksi. Dia menyiapkan alat-alat mencuri, kemudian shalat Isya’ dan menunggu sampai semua orang tidur. Sekarang dia keluar rumah untuk menjalankan profesi ayahnya, seperti perintah sang guru (syaikh). Dimulailah dengan rumah tetangganya. Saat hendak masuk ke dalam rumah dia ingat pesan syaikhnya agar selalu bertakwa. Padahal mengganggu tetangga tidaklah termasuk takwa. Akhirnya, rumah tetangga itu di tinggalkannya. Ia lalu melewati rumah lain, dia berbisik pada dirinya, “Ini rumah anak yatim, dan Allah memperingatkan agar kita tidak memakan harta anak yatim.” Dia terus berjalan dan akhirnya tiba di rumah seorang pedagang kaya yang tidak ada penjaganya. Orang-orang sudah tahu bahwa pedagang ini memiliki harta yang melebihi kebutuhannya. “Ha, di sini,” gumamnya. Pemuda tadi memulai aksinya. Dia berusaha membuka pintu dengan kunci-kunci yang disiapkannya. Setelah berhasil masuk, rumah itu ternyata besar dan banyak kamarnya. Dia berkeliling di dalam rumah, sampai menemukan tempat penyimpanan harta. Dia membuka sebuah kotak, didapatinya emas, perak dan uang tunai dalam jumlah yang banyak. Dia tergoda untuk mengambilnya. Lalu dia berkata, “Eh, jangan, syaikhku berpesan agar aku selalu bertakwa. Barangkali pedagang ini belum mengeluarkan zakat hartanya. Kalau begitu, sebaiknya aku keluarkan zakatnya terlebih dahulu.”
Dia mengambil buku-buku catatan di situ dan menghidupkan lentera kecil yang dibawanya. Sambil membuka lembaran buku-buku itu dia menghitung. Dia memang pandai berhitung dan berpengalaman dalam pembukuan. Dia hitung semua harta yang ada dan memperkirakan berapa zakatnya. Kemudian dia pisahkan harta yang akan dizakatkan. Dia masih terus menghitung dan menghabiskan waktu berjam-jam. Saat menoleh, dia lihat fajar telah menyingsing. Dia berbicara sendiri, “Ingat takwa kepada Allah! Kau harus melaksanakan shalat dulu!” Kemudian dia keluar menuju ruang tengah rumah, lalu berwudhu di bak air untuk selanjutnya melakukan shalat sunnah. Tiba-tiba tuan rumah itu terbangun. Dilihatnya dengan penuh keheranan, ada lentera kecil yang menyala. Dia lihat pula kotak hartanya dalam keadaan terbuka dan ada orang sedang melakukan shalat. Isterinya bertanya, “Apa ini?” Dijawab suaminya, “Demi Allah, aku juga tidak tahu.” Lalu dia menghampiri pencuri itu, “Kurang ajar, siapa kau dan ada apa ini?” Si pencuri berkata, “Shalat dulu, baru bicara. Ayo, pergilah berwudhu, lalu shalat bersama. Tuan rumahlah yang berhak jadi imam.”
Karena khawatir pencuri itu membawa senjata si tuan rumah menuruti kehendaknya. Tetapi –wallahu a’lam- bagaimana dia bisa shalat. Selesai shalat dia bertanya, “Sekarang, coba ceritakan, siapa kau dan apa urusanmu?” Dia menjawab, “Saya ini pencuri.” “Lalu apa yang kau perbuat dengan buku-buku catatanku itu?”, tanya tuan rumah lagi. Si pencuri menjawab, “Aku menghitung zakat yang belum kau keluarkan selama enam tahun. Sekarang aku sudah menghitungnya dan juga sudah aku pisahkan agar kau dapat memberikannya pada orang yang berhak.” Hampir saja tuan rumah itu dibuat gila karena terlalu keheranan. Lalu dia berkata, “Hai, ada apa denganmu sebenarnya. Apa kau ini gila?” Mulailah si pencuri itu bercerita dari awal. Dan setelah tuan rumah itu mendengar ceritanya dan mengetahui ketepatan, serta kepandaiannya dalam menghitung, juga kejujuran kata-katanya, juga mengetahui manfaat zakat, dia pergi menemui isterinya. Mereka berdua dikaruniai seorang puteri. Setelah keduanya berbicara, tuan rumah itu kembali menemui si pencuri, kemudian berkata, “Bagaimana sekiranya kalau kau aku nikahkan dengan puteriku. Aku akan angkat engkau menjadi sekretaris dan juru hitungku. Kau boleh tinggal bersama ibumu di rumah ini. Kau kujadikan mitra bisnisku.” Ia menjawab, “Aku setuju.” Di pagi hari itu pula sang tuan rumah memanggil para saksi untuk acara akad nikah puterinya.
BEKAL
Kekhalifahan Abbasiyah di abad 9, membentang dari Afrika Utara, sebagian Eropa sampai dengan wilayah Persia, dengan Baghdad sebagai ibu kotanya, menjadi negara yang paling maju saat itu. Dengan wilayah kurang lebih 11 juta kilometer persegi dan populasi sekitar 20 juta orang, pergerakan orang dari sana ke mari menjadi tidak terelakkan lagi. Untuk tujuan perdagangan, mencari ilmu, melakukan ziarah dan mencari rizki, orang-orang melakukan perjalanan ke seluruh penjuru bumi dan tentu saja mereka perlu untuk mempersiapkan perbekalan dalam perjalanan mereka yang panjang dan jauh itu.
Orang biasa membawa barang berharga, dinar, dirham, emas, perak atau logam berharga lain sebagai bekal perjalanan mereka. Tapi karena faktor keamanan, kadang sulit untuk membawa barang-barang berharga itu ke mana-mana. Di samping berat, belum tentu barang yang dianggap berharga di satu tempat juga dihargai yang sama di tempat lain. Untuk membawa barang yang banyak, orang juga harus mempersiapkan kabilah dan petugas keamanan. Sementara perampok dan penjahat bisa saja mengincar harta perbekalan yang dibawa oleh rombongan/kabilah tadi dan menyebabkan perjalanan menjadi berbahaya dan kadang bisa mengorbankan harta dan nyawa.
Di tengah kesulitan penjaminan keamanan itu, Khalifah Harun Al Rasyid yang terkenal pandai dan bijaksana, menerbitkan suatu sistem yang disebut sebagai sakk. Dengan menggunakan sakk, orang tidak lagi perlu membawa uang, dinar atau dirham ke mana-mana. Mereka cukup membawa surat berharga yang disebut sebagai sakk itu yang mempunyai nilai seharga sejumlah uang dan dapat ditukarkan di bank-bank atau lembaga-lembaga keuangan yang dijamin pemerintah. Perjalanan menjadi jauh lebih aman dan lebih fleksibel. Kini, para pelancong tidak perlu mengantungi uang dinar atau dirham dalam jumlah lebih banyak dan tidak perlu banyak membawa pengawal/penjaga. Orang tinggal membawa sakk yang bisa ditukarkannya di negeri tujuan mereka. Di kemudian hari, sistem sakk ini semakin berkembang, dan saat ini dikenal dalam bahasa Inggris sebagai cheque. Sistem ini merupakan salah satu inovasi besar dalam peradaban besar yang bermanfaat bagi umat manusia sampai saat ini. Meskipun penggunaannya makin berkurang, sistem keuangan akan selalu berkembang dan menyesuaikan peradaban manusia yang memungkinkan hidup menjadi semakin mudah, semakin nyaman dan semakin baik.
Untuk menempuh suatu perjalanan ke tempat yang jauh, kita perlu mempersiapkan perbekalan kita. Definisi perbekalan ini bisa bermacam-macam, dan berbeda tempat, berbeda pula yang perlu kita siapkan. Misalnya kita mau masuk ke hutan belantara, tentu saja uang sebanyak apapun kurang atau bahkan tidak banyak gunanya untuk bisa hidup di hutan. Yang perlu kita siapkan adalah ilmu survival, sehingga dengan peralatan sederhana kita bisa hidup dan survive. Perbekalan makanan yang banyak juga belum tentu bermanfaat, karena kita perlu listrik, perlu air bersih yang belum tentu bisa kita dapatkan di hutan.
Orang kadang membawa bekal sebanyak-banyaknya dengan asumsi bahwa di tempat tujuan nanti tidak terdapat apa yang mereka butuhkan. Cara ini mungkin bagus tapi kadang tidak efektif dan memberatkan atau menyusahkan diri kita saja, apalagi jika ternyata barang yang kita butuhkan juga ada di tempat tujuan. Dengan kondisi dunia yang semakin terbuka dan terkoneksi, kita bisa punya akses informasi mengenai tempat tujuan kita dan mencari informasi mengenai apa yang perlu kita bawa dan kita butuhkan di tempat tujuan tersebut. Intinya adalah mempunyai ilmu dan informasi yang cukup, agar kita tidak salah membawa perbekalan, jangan sampai kita membawa barang yang tidak perlu atau sebaliknya, kita tidak membawa barang yang sebenarnya diperlukan untuk kita sampai di tempat tujuan nanti.
BERTINDAKLAH! Kehidupan ini bagaikan perjalanan yang panjang yang butuh persiapan dan perbekalan. Untuk menjalani kehidupan di dunia kita perlu ilmu, dan untuk menjalani kehidupan di akhirat kita juga perlu ilmu juga. Maka perbekalan yang terbaik buat kita adalah bekal takwa. Karena dengan bertakwa kita bisa mencari ilmu dan mencari bekal yang cukup untuk kehidupan kita di dunia dan di akhirat
18.59 by Kojinatul asror · 0
1. Iman
(الايمان)
الهي …قد انزلت رحمة واحدة, واكرمتنا بتلك الرحمة, وهي الاسلام,
فاذا انزلت علينا مائة رحمة, فكيف لا نرجو مغفرتك يا الهي...
Wahai Tuhanku…Tuan telah anugrahkan padaku sebuah rahmat, dan dengan rahmat tersebut Tuan telah memuliakanku, rahmat tersebut adalah nikmat (yang berupa) Islam, Apabila Tuan (telah berjanji) akan menurunkan seratus nikmat, bagaimana (mungkin) aku tidak berharap ampunanMu, Hai Tuhanku.
MOTIVASI
KETANGGUHAN BILAL RA DALAM MEMPERTAHANKAN IMAN
Cobalah anda semua membaca kisah hidup Bilal, sudah pasti dada anda sebak dan anda menangis sendirian! Betapa hebat dan besarnya ujian yang Allah s.w.t berikan kepada manusia hebat ini menjadi pengajaran kepada seluruh insan di mukabumi ini
.
Bilal lahir di daerah Al-Sarah yang terletak dipinggir Kota Mekah 43 tahun sebelum Hijrah. Ayahnya bernama Rabah dan ibunya bernama Hamamah, seoran wanita berkulit hitam. Sebab itulah Bilal selalu disebut dan diejek dengan gelaran Ibnus-Sauda’ yang bermaksud “Putera Wanita Hitam”. Ibu bapanya adalah hamba dan Bilal dilahirkan sebagai seorang hamba kepada keluarga Bani Abdul Dar.
Liku-liku pahit perjalannya hidupnya bermula bila kedua ibu bapanya yang berpindah dari Habsyah untuk mencari penghidupan baru di Kota Mekah dirompak di pertengahan jalan, ditangkap dan ditawan, seterusnya dijual di pasar Ukaz, lalu dibeli oleh keluarga Bani Abdul Dar.
Kedua ibu bapanya dipaksa bekerja siang dan malam dan dilayan dengan kejam oleh tuannya. Mereka tidak diberi makan dan rehat yang cukup. Pernah suatu hari abang kepada Bilal menangis kerana terlalu lapar, lalu ibunya mengambil sekeping sisa roti dari rumah tuannya, namun bila ternampak oleh tuannya, ibu Bilal di pukul dan roti tersebut disentap dari tangan abangnya lalu dilemparkan kepada seekor anjing, bagi tuannya Bilal dan keluarganya lebih hina dan jijik dari seekor anjing
.
Bila abangnya Sahib dan Bilal meningkat remaja, abangnya telah dijual sebagai hamba di yaman, namun nasib abangnya agak baik kerana dia telah dibeli oleh sepasang suami isteri yang kaya tetapi tidak mempunyai anak, lalu dijadikannya Sahib anak angkat mereka.
Ibunya meninggalkan dunia akibat kerinduan yang teramat sangat kerana berpisah dengan anaknya Sahib dan akibat selalu dipukul dengan teruk oleh tuannya. Selepas ibunya meninggal, ayahnya pula turut meninggal dunia kerana sakit tenat.
Selepas ayahnya meninggal dunia, Bilal diserahkan kepada tuan yang baru, iaitu Umaiyah Bin khalaf. Walaupun Bilal seorang hamba yang rajin, jujur dan amat mematuhi suruhan tuannya, tetapi bila Umaiyah mendapat tahu Bilal telah memeluk islam, dia mula menyiksa Bilal tanpa belas kasihan supaya Bilal kembali ke agama asal mereka. Bilal enggan tunduk dan mengikut kemahuan tuannya kerana hatinya telah diserikan oleh bunga-bunga iman. Dia beriman kepada Allah dan RasulNya Muhammad s.a.w. Bagi dirinya dunia dan segala isinya sudah tidak bererti lagi jika dibandingkan dengan nikmat islam dan manisnya iman yang dikecapi dalam hatinya.
Pada mulanya, Bilal dipukul, kemudian dia diarak keliling Kota Mekah. Selepas itu Bilal dijemur di atas pasir ditengah panasnya bahang matahari, dia diseksa dan tidak diberikan makanan dan minuman. Ketika matahari berada tegak diatas kepala dan padang pasir panas membara, Bilal dipakaikan baju besi dan dijemur. Tubuh Bilal disebat dengan cemeti dan dadanya ditindih dengan batu besar. Sudah berbagai bentuk penyeksaan dan taktik yang dilakukan oleh Umaiyah kepada Bilal, namun keimanan Bilal tidak pernah luntur malah lebih menghairankan Umaiyah ialah keimanan Bilal makin bertambah.
Bila Umaiyah memaksa Bilal menyebut nama Tuhan mereka al-Latta dan al-Uzza, Bila tetap dengan iman dan takwanya mempertahankan dan menyebut kalimah “Allah, Allah, Allah,…. Ahad, Ahad, Ahad ..”
Berita penyeksaan yang begitu kejam itu akhirnya sampai kepada pengetahuan Abu Bakar as-Siddiq, lalu Abu Bakar pun pergilah menemui menemui Umaiyah untuk membeli dan menebus Bilal tanpa tawar menawar dengan harga 9 uqiyah emas. Umaiyah berkata, jika Abu Bakar meminta untuk dikurangkan harga Bilal kepada 1 uqiyah emas pun dia sanggup menjualnya, lalu Abu Bakar berkata lagi, jika Umaiyah meletakkan harga Bilal sehingga 100 uqiyah emas pun dia sanggup membelinya. Abu Bakar pun mengambil Bilal lalu memerdekakannya! Bagi Abu Bakar, Bilal adalah seorang manusia hebat dan kukuh imannya. Bila kisah ini diceritakan oleh Abu Bakar kepada Rasulullah s.a.w, maka Rasulullah s.a.w pun terus menyampaikan hasratnya untuk berkongsi wang tebusan Bilal tetapi Abu Bakar mengatakan bahawa dia telah menyelesaikan bayaran itu dengan menggunakan wangnya sendiri! Inilah kisah pengorbanan, kasih sayang, perpaduan, persaudaraan dan permuafakatan yang indah di zaman rasulullah s.a.w!
Dari seorang hamba abdi, Bilal diangkat darjatnya disisi Allah berkat kesabaran dan kegigihannya mempertahankan kalimah Allah, kalimah iman yang amat disayanginya. Dia dilantik menjadi tukang azan Rasulullah s.a.w sehingga laungan azannya bergema 5 kali sehari diseluruh penjuru Kota Mekah dan Madinah malah melepasi langit yang 7 lalu bergema di Arasyh Rabbul Jalil. Seluruh para malaikat di langit menanti-nantikan suara Bilal melaungkan azan setiap hari. Ada satu cerita seorang yang dengki dan irihati dengan Bilal telah membodek rasulullah s.a.w untuk menggantikan Bilal untuk melaungkan azan, tetapi malangnya azan itu dilaungkan secara tidak ikhlas sehingga suara azan tidak bergema seperti selalu dilaungkan oleh Bilal di langit lalu malaikat pun bertanya kepada Rasulullah s.a.w tentang hal itu.
Bilal menyertai semua peperangan dijalan Allah di zaman Nabi Muhammad s.a.w. Kewafatan Nabi s.a.w, memberikan kesan yang cukup mendalam bagi Bilal, betapa sayangnya Bilal pada Rasulullah s.a.w tidak dapat digambarkan dengan kata-kata! Sehinggakan Bilal tidak mampu melaungkan azan lagi, kerana bila tiba pada perkataan Muhammad itu, hatinya terus sebak dan air matanya terus mengalir! Selepas itu Bilal tidak mahu lagi menjadi bilal walaupun puas dipujuk oleh sahabat-sahabat Nabi s.a.w, bukan dia tidak mahu, tetapi dia tidak mampu!!!
Pada zaman Khalifah Abu Bakar, Bilal memohon untuk pergi berperang, tetapi tidak dibenarkan oleh Abu Bakar dengan alasan beliau masih memerlukan khidmat Bilal di Madinah. Mungkin Abu Bakar sudah dapat membaca isi hati Bilal yang sangat merindui mati syahid untuk bertemu dengan orang yang sangat dicintainya iaitu Muhammad s.a.w! Ini adalah kerana kewafatan baginda merupakan satu kehilangan yang besar bagi Bilal
.
Sekali lagi pada zaman Khalifah Umar, Bilal memohon untuk menyertai angkatan perang islam menentang tentera Rom lalu diizinkan Saidina Umar. Kesempatan itu digunakan oleh Bilal secukupnya , beliau telah membawa isterinya turut sama berperang bersama tentera islam sehingga berjaya menakluki Baitulmuqaddis! Namun apa yang diharapkan Bilal tidak dimakbulkan Tuhan lagi.
Dia berpindah dari Mekah ke Madinah dan orang ramai sentiasa memujuk dan menyuruhnya menjadi tukang azan, namun beliau menolak dengan baik. Saidina Umar dan Saidina Ali juga pernah memujuk Bilal, tetapi Bilal tetap menolak.
Kata Saidina Umar :
“Bilal, adakah kamu seorang saja yang merasa sedih dengan kehilangan Rasulullah s.a.w? Air mata saya juga sudah kering kerana menangis! Jika boleh, saya mahu serahkan nyawa saya ini sebagai gantinya”,
lalu jawab Bilal
:
“Wahai Amirul mukminin, kesedihan saya melebihi kesedihan tuan. Tuan lahir sebagai seorang yang merdeka. Berbanding saya seorang hamba. Tuan tidak pernah merasai bagaimana gembiranya seorang hamba apabila dimerdekakan. Sesungguhnya Rasulullah s.a.w membebaskan kami dari perhambaan. Dia memuliakan saya ketika orang lain menghina saya. Kemudian Rasulullah s.a.w melantik saya sebagai tukang azan. Rasulullah s.a.w juga pernah mengatakan terdengar hentakan sepatu saya di dalam syurga” kata Bilal dengan nada yang sedih dan hiba
.
Selepas itu Bilal berpindah ke Syam, penduduk Syam juga meminta beliau menjadi tukang azan tetapi Bilal menolak lalu mereka pun memulaukan Bilal. Akhirnya Bilal membawa isterinya berpindah ke Damsyik setelah penduduk Syam memarahinya. Bila akhirnya wafat pada tahun 20 Hijrah / 641 Masehi di Damsyik dan dikebumikan di Damsyik ketika berumur 63 tahun.
Pengaruh iman dalam kehidupan sangat nyata sekali. Ketika diinterogtasi di Damaskus dgn berbagai bentuk penyiksaan yg keji Ibnu Taimiyah Rahimahullah malah mengatakan “Apa yg diperbuat musuh-musuhku itulah surgakupenjara bagiku adalah tempatku menyepi dan penyiksaan terhadapku itulah syahadahku sedang pengusiran terhadapku itulah tamasyaku.” Ucapan ini tentu tak akan keluar kecuali dari seorang yg benar-benar telah menghunjam kuat imannya di dalam dada.
KATA-KATA BIJAK:
1. Utsman bin Affan r.a. berkata:
Sungguh sia-sia Orang alim yang tidak dimanfaatkan Ilmu yang tidak disosialisasikan Pemikiran benar yang dikesampingkan Pedang yang tidak dipergunakan Dan umur panjang yang disia-siakan
2. Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.
3. Keyakinan dan kesungguhan dalam berupaya adalah sebuah gerbang untuk menapaki tangga keberhasilan.
4. “Janganlah kamu takut kepada makhluk dan janganlah kamu berharap kepada mereka, kerana hal itu menunjukkan betapa lemahnya imanmu. Hendaklah engkau istiqamah dalam cita-citamu, sehingga engkau memperolehi ketinggian, kerana Allah SWT akan memberimu sesuatu yang layak dengan cita-citamu, dengan kebenaran dan keikhlasanmu. Bersungguh-sungguhlah engkau, songsong dan kejarlah, kerana sesuatu itu tidak akan datang kepadamu begitu sahaja, tanpa berusaha memperolehinya, sedangkan engkau mempunyai kewajiban untuk melakukan amal kebaikan sebagaimana engkau diwajibkan untuk mencari rezeki.” ~ Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam bukunya ‘Wasiat & Nasihat Kerohanian.
18.56 by Kojinatul asror · 0
Langganan:
Postingan (Atom)
